Sabtu, 22 Oktober 2011

Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan

Ada seorang ibu yang memiliki sepasang putra-putri, lalu mengisi hidupnya hanya dengan kesedihan. Putra tertua kebetulan penjual es krim keliling. Sementara putri kedua adalah penjual payung.

Ketika hari panas, ibu ini menangis untuk putrinya karena teramat sedikit yang beli payung. Saat hari hujan, ibu ini menangis untuk putranya karena jarang sekali orang membeli es krim.

Cerita ini hanya pengandaian tentang teramat banyaknya hidup kekinian yang diwarnai kesedihan. Ada saja alasan yang membuat kehidupan tergelincir ke dalam kesedihan. Dari bencana, penyakit, umur tua, hingga kematian. Sehingga jadilah kesedihan semacam hulu dari sungai kehidupan yang penuh stres, keluhan, penyakit, dan konflik.

Kegembiraan- kesedihan
Seorang sahabat psikiater pernah bercerita, tidak sedikit rumah sakit jiwa yang mulai kekurangan tempat. Sejumlah rumah sakit jiwa bahkan memulangkan pasien yang belum sepenuhnya sembuh, semata- mata karena ada pasien parah yang lebih membutuhkan.

Kebanyakan orang membenci kesedihan. Mungkin karena berbicara ke dunia publik, lalu Dalai Lama kerap mengatakan, "Ada yang sama di antara kita, tidak mau penderitaan, mau kebahagiaan" . Dan ini tentu amat manusiawi. Sedikit manusia yang berani mengatakan, jika mau menangis janganlah menangis di depan kematian. Menangislah di depan kelahiran. Sebab semua kelahiran membawa serta penyakit, umur tua, lalu kematian.

Dengan kata lain, kelahiran sekaligus kehidupan tak bisa menghindar dari kesedihan. Kesedihan selalu mengikuti langkah kelahiran. Seberapa kuat manusia berusaha, seberapa perkasa manusia membentengi diri, kesedihan tetap datang dan datang lagi.

Seperti ayunan bandul, semakin keras dan semakin bernafsu seseorang dengan kebahagiaan, semakin keras pula kesedihan menggoda. Ini yang bisa menjelaskan mengapa sejumlah penikmat kebahagiaan secara berlebihan, lalu digoda kesedihan juga berlebihan. Ini juga yang ada di balik data WHO jika Amerika Serikat (sebagai salah satu tempat terbesar di mana kebahagiaan demikian dikejar dan dicari), menjadi konsumen pil tidur per kapita tertinggi di dunia.

Ada peneliti membandingkan dua negara yang sama-sama mayoritas beragama Buddha, yaitu Jepang dan Burma. Dari segi materi, Jepang merupakan sebuah keajaiban dan keunikan. Dibanding Jepang, Burma secara materi jauh dari layak. Namun dalam fenomena sosial seperti bunuh diri, perceraian, dan depresi, Jepang jauh lebih tinggi dari Burma. Seperti berbisik meyakinkan, di mana kebahagiaan materi berlimpah, di sana kesedihan juga berlimpah.

Seperti sadar realita pendulum seperti itu, banyak pertapa, penekun meditasi, yogi, sahabat sufi, dan lainnya, mengizinkan pendulum emosi hanya bergerak dalam ruang terbatas. Saat kebahagiaan datang, disadari kalau kebahagiaan akan diganti kesedihan. Sehingga nafsu perayaan berlebihan agak direm. Konsekuensinya, saat kesedihan berkunjung, ia tidak seberapa menggoda.

Merasa berkecukupan
Kahlil Gibran dalam The Prophet memberi kata-kata indah, saat kita bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan menunggu di tempat tidur. Dalam pengertian lebih sederhana, manusia serumah dengan kebahagiaan dan kesedihan. Bagaimana bisa lari jauh atau lama dari kesedihan yang notabene serumah dengan kita?

Karena itu, sejumlah guru mengajarkan untuk melampaui kebahagiaan- kesedihan. Dalam bahasa guru jenis ini, kebahagiaan dan kesedihan hanya permainan bagi jiwa-jiwa yang sedang tumbuh menjadi dewasa. Pertumbuhan itulah yang memerlukan gerakan kebahagiaan, kesedihan, kebahagiaan, kesedihan, dan seterusnya.

Namun bagi setiap jiwa yang sudah mulai dewasa, ia akan sadar, kalau baik kebahagiaan maupun kesedihan memiliki sifat yang sama, tak pasti dan silih berganti. Bukankah bergantung pada sesuatu yang tak pasti akan membuat hidup tidak pasti? Lebih dari itu, baik kebahagiaan dan kesedihan berakar pada hal yang sama, keinginan. Bila keinginan terpenuhi, kebahagiaan datang berkunjung. Saat keinginan tidak terpenuhi, kesedihan tamunya.

Dan setiap pejalan kaki ke dalam diri yang jauh tahu, keinginan (lebih-lebih disertai kemelekatan) adalah ibu penderitaan. Kesadaran seperti inilah yang membimbing sejumlah orang untuk memasuki wilayah- wilayah keheningan.

Berbeda dengan kebahagiaan yang lapar akan ini, lapar akan itu; membandingkan dengan ini dengan itu; ingin lebih dari ini, lebih dari itu. Keheningan sudah berkecukupan. Seperti burung terbang di udara, ikan berenang di air, serigala berlari di hutan, matahari bersinar siang hari, bintang bercahaya di malam hari. Semua sempurna. Tidak ada yang layak ditambahkan atau dikurangkan. Penambahan atau pengurangan mungkin bisa membahagiakan. Tetapi, dalam kebahagiaan, batin tidak sepenuhnya tenang-seimbang, selalu ada ketakutan digantikan kesedihan.

Dalam kamus orang-orang yang sudah memasuki keheningan, sekaya apa pun Anda akan tetap miskin tanpa rasa berkecukupan. Semiskin apa pun Anda, akan tetap kaya kalau hidup berkecukupan. Maka seorang guru yang telah tercerahkan pernah berucap, "Enlightenment is like the reflection of the moon in the water. The moon doesn't get wet, the water is not separated". Pencerahan seperti bayangan bulan di air. Bulannya tidak basah karena air. Airnya tidak terpecah karena bulan. Dengan kata lain, inti pencerahan adalah tidak tersentuh. Tidak marah saat dimaki, tidak sombong tatkala dipuji. Tidak melekat pada kebahagiaan, tidak menolak kesedihan. Persis seperti bunga padma, di air tidak basah, di lumpur tidak kotor.

Dan salah satu akar menentukan dari ketidaktersentuhan ini adalah keberhasilan mendidik diri untuk merasa berkecukupan. Yang tersisa setelah ini hanya empat "M", mengalir, mengalir, mengalir, dan mengalir.

Jiwa Terasa Hampa

Pandangan tertuju pada kubangan besar menganga
Jutaan mata terbelalak di sana
Haus dan lapar tak ada yang dirasa
Hanya tangis dan derai air mata menghiasi isinya


Tak ada lantunan lagu indah menyertainya
Tak ada kata kata mesra mengungkap rasa
Tak ada detak detak menggelora pembawa nuansa
Sirna dan semua sirna tak membekas tapak tapaknya

Nyawa tak ada harganya
Apalagi harta benda yang dibanggakannya
Anak dan istri tak lagi bisa bicara
Bungkam dan hanya jeritan merajalela

Kemana jiwa akan mencari sisa sisa masa
Tak sanggup lagi bangun dan benahi kata kata
Kemana diri akan melangkah serta
Tak kuat berlari dan mengejar aksara aksara

Semua sudah tertuang dalam kitab-Nya
Dari yang kecil hingga segala apa yang ada
Dari yang tak terduga hingga yang di depan mata
Tak ada yang bisa mengelak dari murka-Nya

Yaa Rabb, ampuni lemahnya jiwa hamba
Yang sering berjanji di tengah penghuni kubangan menganga
Yang hanya bisa mengukir kata tanpa tindakan nyata
Yang hanya bisa menuding saja tanpa karya menyerta…

Puisi Ketika Hati Menangis

Aku termenung mengingat Engkau..
Dan tak bisa ku tahan jatuh air mataku..
Aku terbuai dengan keindahanMU..
Seakan hatiku ada bersamaMU..


Begitu besar perasaan hatiku..
Hingga tak mampu ku coba untuk mengungkapkan..
Begitu dalam rasa rindu padaMU..
Aku menangis dengan kerinduanku..
Sedih hatiku ingin bertemu..

Sedih hatiku mengingatMU..
Gelisah hidupku ingin memujaMU..
Gelisah hidupku karenaMU..
Aku merindukanMU Yaa Allah..
Hati menangis setiap waktu..

Aku merindukanMU Yaa Allah..
Seluruh hidupku memujaMU Yaa Allah..
Aku tak mampu untuk menggapaiMU..
Namun ku yakin Allah Engkau Maha Tahu..
Yaa Allah dengarlah doaku..
Dalam tangis AKU MERINDUKANMU..

Nyanyian Duka Kehidupan

Apa yang aku dapati ?
dari perjalanan hidupku ini
selain ketiadaberdayaan
melawan arus nasib
yang selalu tersisih…,tersingkir
dari rasa ingin merasakan kebahagiaan.

Saat terkenang masa kecilku
ingin rasanya aku kembali.
betapa indahnya
saat cambuk kecil memukul tubuhku
dari seorang ibu.
Begitu jelas kasih sayang itu
mengisi ruang batinku yang masih polos
begitu damai kurasakn
saat menangis dalam pelukannya.
Tapi,..
semua itu tak mngkin bisa kuulang kembali
karena aku tau
hdup ini bagaikan jalan satu arah
yang tak bsa kembali.
Biarlah,…
kalau memang kisah hdup ini,…seperti itu
pada masanya
saat nafas ini terhenti
pasti semua kesengsaraan ini
akan tinggal cerita diatas langit pertiwi
Menjadi nyanyian duka burung-burung nuri yang pandai bernyanyi.

Perempuan Terluka

Seorang perempuan…
Duduk diambang sumur kegelapan
Beratapkan terik sang matahari
Berpijak pada kekeringan tanah yang mulai terbelah
Seorang perempuan…
Bersimpuh mendekap luka yang sudah mengering
Kini mulai alirkan darah kembali
Luka dari sebuah keadilan
Luka dari sebuah cinta
Yang terenggut dengan kejam

Seorang perempuan…
Menangis pilu tercabik potongan kenangan
Kenangan yang tak pantas ada
Kenangan yang sudah terendam dalam, bersama zaman
Seorang perempuan…
Terhempas lara ke lubang gelap yang berair
Tinggalkan semua yang sudah tertata indah
Menyerah kalah pada taring keadilan yang dipaksakan
Seorang perempuan terluka…
Kini tinggal selendang putih
tersangkut diranting yang kering
Pergi bersama lantunan
elegi cinta sang burung
Yang jadi saksi,
betapa perempuan itu sangat terluka.

Hati Yang Terluka

Kau tahu…..
Aku berada di antara himpitan dua pilar
Yang membuat hatiku remuk
Yang memenjarakan aku bersama mimpi

Kau tak pernah tahu….
Saat cintaku dirampas
Betapa sakitnya diriku
Aku pergi membawa berjuta luka
Aku tenggelam dalam kenistaan
Aku tak pernah lagi pedulikan cinta
Yang ada dalam diriku adalah luka
Saat luka mulai terobati
Kau kembali dengan pesonamu
Kau hidangkan sajian teristimewamu
Kemudian kau campakkan aku
Dengan cemburu, angkara dan keangkuhanmu
Bukankah pernah kukatakan
Bahwa masa laluku penuh dengan luka
Bahwa aku mengobatinya berteman sepiku
Lalu kenapa kau begitu saja mudah terperdaya
Begitu mudah mendengar kata mereka
Tanpa pernah kau cari tahu yang sesungguhnya
Sekian lama aku terdiam
Bukan karena takut
Bukan karena menutupi semuanya
Aku mengalah untuk keutuhan kita
Untuk sebuah kebersamaan yang telah dirancang

Rindu Terbatas Nisan Sunyi

Rinduku kini bak sebutir embun yang sirna
Bersama teriknya mentari
Meranggas diantara pucuk-pucuk ranting
Asmaraku hening kedalam kemilaunya bulan
Yang hanya dapat kupandangi tanpa bisa disentuh

Demi waktu yang pernah terlewati
Wajah itu masih lekat dalam netra biruku
Saat ikhlasnya melepas kepergianku
Bening telaga matanya mengharu,
Terberai hangat dalam dekapku
Detak suaranya menggetarkan nadiku
Bergema keseluruh tubuhku
Masih terngiang saat ia datang terbata berkata,
“Gapailah yang telah menjadi impianmu selama ini,aku disini akan baik-baik saja dan aku akan menantimu dengan segala harapan cinta kita”
Semuanya itu kini meretas dalam kesunyianku
Pilu hati membelai nisannya
Letih menggelayuti ubun-ubun rinduku
Pupus sudah semuanya
Dia pergi meninggalkanku
Dalam penantian yang abadi

“Selamat Jalan Kasih”
Hanya itu yang bisa kuucapkan saat ini
Tapi do’aku kan selalu mengalir bersama rinduku yang terbenam dalam telaga bisu
Hening menguncup diujung hati.